Ad Hominem
Dalam situs Wikipedia, disebutkan bahwa argumen ad hominem juga dikenal dalam bahasa Latin sebagai argumentum ad hominem, atau dalam Bahasa Inggris sebagai ”argument to the man” atau ”argument against the man”. Yang mengandung arti, sebuah argumen yang ditujukan untuk menyerang lawan bicara [1]. Alih-alih menjelaskan konsep pemikirannya atau menjelaskan argumentasi yang dimilikinya dalam sebuah diskusi, argumen ad hominem ini bertujuan khusus untuk menyerang dan menjatuhkan mental dan psikologis lawan bicara. Tujuan diskusi menjadi hanya sekadar kalah dan menang, dan bukan mencari sebuah kebenaran –minimal sebuah titik persimpangan yang disepakati- dalam sebuah prosesi tukar pikiran.
Segolongan orang yang mengasong paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme (untuk lebih singkatnya, saya akan menyebutnya sebagai SEPILIS saja); sedari awal, selalu mengagung-agungkan penggunaan akal dan kedewasaan dalam bertukar pikiran. Klaim-klaim mengenai pembebasan akal dan kebebasan untuk berbicara sangatlah kental dalam wacana-wacana mereka. Dan ya, klaim-klaim itu hanyalah wacana dalam artian mereka tidak benar-benar bisa menerapkan dalam tingkah laku mereka. Ibarat pepatah “jauh panggang daripada api”, wacana kebebasan dan kedewasaan setinggi langit namun jiwa dan etika kerdil, jauh dari omongan-omongan mereka sendiri.
Mari kita lihat.
Tanggal 22 Jumadil Akhir 1426 Hijriyah, atau bertepatan dengan 29 Juli 2005 Masehi merupakan tanggal yang bersejarah bagi JIL dan semua orang yang berafiliasi secara pemikiran kepadanya. Bagaimana tidak, pada hari itulah MUI telah menempelkan stempel sesat ke dahi mereka (maaf, ini hanyalah gaya bahasa metafora, semoga tidak dijadikan sasaran ad hominem). Sebagai wadah berkumpulnya para alim ulama, tentu saja MUI tidak asbun alias asal bunyi dalam berfatwa. Segudang argumentasi dan dalil-dalil rujukan menyertai fatwa yang dikeluarkan dalam perhelatan Munas MUI ke-7 tersebut.
Dan lihatlah apa yang terjadi.
Ulil Abshar Abdalla menganggap MUI tolol. Gus Dur mengimbau masyarakat untuk tidak mendengar MUI. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan oleh Aliansi Masyarakat Madani pada tanggal 29 Juli 2005 di kantor PBNU, mereka bahkan mengajak orang-orang non-Muslim untuk ikut-ikutan berkomentar. Tercatat Pangeran Jatikusuma dari Penghayat Sunda Wiwitan, Romo Edi dari Konferensi Wali Gereja Indonesia, Pendeta Weinata Sairin dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, tokoh agama Konghucu, serta Anand Khrisna ikut hadir dan memberikan komentarnya dalam acara tersebut [2]. Lihatlah mereka ini. Sudah tidak tahu duduk permasalahannya, tidak kompeten pula dalam urusan hukum Islam. Menyeret orang-orang non-Muslim dalam urusan dapur umat Islam hanya akan menambah kericuhan saja.
Inilah JIL dan pengekornya, pemuja akal dan kebebasan; namun tidak siap dengan kebebasan itu sendiri.
Sebagai kaum yang memuja kebebasan berpikir dan berbicara, seharusnya kaum SEPILIS ini tidak perlu bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Mereka harus menunjukkan bahwa mereka bisa menerima perbedaan pendapat dengan MUI dan menghormati kebebasan MUI dalam bersikap. Bahkan jika perlu, mereka harus menunjukkan bahwa mereka siap dengan argumentasi mereka. Atau jika sudah mentok, mengapa tidak dikeluarkan saja jurus “Ah, itu kan menurut Anda” saja. Mengapa Ulil begitu kalut dengan fatwa ini, padahal dia sudah bisa menentukan sebagian ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang kadaluarsa, dan sebagian yang masih bisa digunakan atau sedikit dimodifikasi. Mengapa kaum yang telah meragukan kesucian al-Qur’an ini begitu panik ketika ada sebagian orang yang mencoba untuk istiqamah dengan ayat-ayat-Nya. Sayang sekali kita tidak menemukan kedewasaan dalam berbeda pendapat di kalangan kaum SEPILIS ini.
Munculnya dalil ad hominem ini sesungguhnya menunjukkan kekerdilan dan kesombongan pelakunya. Sudah tidak bisa memberikan argumentasi yang baik, malah caci-maki dan cercaan tanpa etika yang disemburkan. Seolah-olah hanya mereka saja yang paham akan hakikat kebenaran; sedangkan seolah-olah orang lain –yang bahkan jika diberi tahu sekalipun- tidak akan paham. Ini terbukti dengan adanya pendapat yang mengatakan bahwa pemikiran Gus Dur dan Cak Nur sudah melampaui zaman; tidak ada yang bisa memahaminya selain mereka berdua saja. Bahkan salah seorang cendekiawan mengusulkan adanya satu lapisan pemikir yang menjembatani antara pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dengan masyarakat umum. Sungguh suatu pendapat yang melecehkan kemampuan akal dan otak manusia; yang bahkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam saja tidak pernah didudukkan dalam maqam semacam itu.
Ustadz Hartono Ahmad Jaiz –dalam sebuah bukunya- memberikan kesaksian mengenai etika berdiskusi dari Gus Dur dan Cak Nur sebagai berikut:
Di saat model seminar mulai marak di Indonesia, bahkan seminar mengenai agama mulai ngetrend, Harian Pelita tempat saya bekerja, dalam ulang tahunnya yang ke-11, 1 April 1985, mengadakan seminar tentang pendidikan keimanan dalam keluarga. Pembicaranya Dr. Nurcholish Madjid yang belum lama pulang dari Chicago Amerika dan bergelar doktor, dan H. Abdurrahman Wahid yang kelak kemudian dikenal dalam kasus Assalamu’alaikum mau dia ganti dengan selamat pagi. Seminar itu dibuka oleh Menteri Agama RI H. Munawir Sjadzali MA.
Seminar di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta, itu memanas, lantaran seorang penanya memprotes Abdurrahman Wahid tentang bacaannya yang salah secara ilmu nahwu, dan Nurcholish Madjid (NM) yang disebut terjemahan Syahadatnya hukumnya haram. Terjemahan NM: Laa ilaaha illallaah, adalah: Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar).
Kedua tokoh itu tampak marah dan bernada merendahkan peserta laki-laki yang protes itu. Abdurrahman Wahid mengetesnya dengan materi nahwu sharaf, sedang Nurcholish mengetes dengan bertanya, siapa Tuhannya orang Yahudi. “Pemrotes” tu tidak bisa menjawab, hingga Nurcholish kedengaran sedikit tertawa, kedengaran mengknock out sambil mengatakan Tuhannya Yahudi itu Yahweh.
Menyaksikan gelagat itu, saya merasakan, dua tokoh itu “mencari dalil untuk mendukung pendapatnya”. Soalnya, kondisi seminar, bagaimanapun, pembicara jelas lebih leluasa untuk ngomong apa saja. Kesempatan itu tidak dimiliki peserta seminar [3].
Itulah etika pengasong SEPILIS dalam bertukar pikiran. Tidak ada semangat untuk mencari kebenaran disana, yang ada hanya bagaimana caranya untuk memenangkan setiap perdebatan. Apapun caranya. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan orang-orang semacam ini untuk dijadikan rujukan dalam memahami din al-Islam. Selain pemahaman yang tercerabut sebagian bahkan seluruhnya dari pedoman al-Qur’an dan al-Sunnah, etika semacam ini sungguh dekat dengan kesombongan. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,
Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia [4].
Allah ‘Azzawajalla berfirman – dalam Hadis Qudsi: “Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu. Maka barangsiapa yang mencabut salah satu dari kedua pakaianKu itu, maka pastilah Aku menyiksa padanya,” artinya mencabut ialah merasa dirinya paling mulia atau berlagak sombong [5].
Dalam sebuah bukunya, Prof. Dr. M. M. Al-A’zami mengutip perkataan Ibnu Sirrin,
Ilmu ini [mengenai agama] menjelma atau merupakan keimanan, dari itu, berhati-hatilah dari siapa anda belajar ilmu itu [6].
Wallahu a’lam.
Referensi
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Ad_hominem. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2008 jam 11.20.
[2] Pluralisme Agama: Haram, Adian Husaini, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2005. Hal. 5.
[3] Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Hartono Ahmad Jaiz, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan Kelima, 2003. Hal. 180. Teks dikutip seutuhnya tanpa perubahan.
[4] HR. Muslim. Dikutip seutuhnya tanpa perubahan dari software SalafiDB 4.0.
[5] HR. Muslim. Dikutip seutuhnya tanpa perubahan dari software SalafiDB 4.0.
[6] Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi, Prof. Dr. M. M. Al-A’zami, Jakarta, Gema Insani Press, 2005. Hal. 381. Saya kurang menyukai hasil terjemahan dari Gema Insani Press ini karena ada banyak kesalahan bahasa di dalamnya. Kutipan tersebut kurang lebih memiliki pengertian bahwa ilmu mengenai din al-Islam berkaitan erat dengan keimanan, maka berhati-hatilah kepada siapa Anda mempelajarinya.